Archive for May, 2007

Grayson. The best fanmade short movie ever!

Wednesday, May 9th, 2007

Habis lihat "Grayson" beberapa waktu lalu. Sebuah short movie yang dibuat oleh orang yang bernama John Fiorella. Filmnya dibuat seakan-akan hanyalah sebuah trailer (untuk sebuah film walaupun filmnya itu sendiri belum tentu akan dibuat secara lengkap).

Ceritanya berkisar tentang kematian Batman dan Dick Grayson yang kembali memakai kostum Robin-nya untuk menyelidiki pembunuh Batman dan melakukan balas dendam. Dick grayson sendiri sudah berkeluarga dengan Barbara Gordon, anak dari Jim Gordon. Dalam penyelidikannya Robin bertarung tidak hanya dengan penjahat-penjahat macam Joker, The Penguin, atau The Riddler, tetapi juga dengan superhero macam Superman, Wonder Woman, dan Green Lantern. Banyak hal yang masih samar (atau memang disamarkan) dalam film pendek ini seperti apakah Batman memang benar-benar mati? Apa motif superhero-superhero tersebut melawan Robin? Siapa pembunuh Batman sebenarnya?

Film pendek yang diformat seperti trailer ini (IMHO) memang pas mengenai sasaran. Bahkan mungkin jika film ini dibuat versi full-nya akan jauh melebihi "lamea$$ Batman movies" seperti Batman & Robin. Kalau mau dibandingkan:
1. Grayson: A superb movie from a not well known director.
2. Batman & Robin: A sucky and lamea$$ movie from a well known director.

Sayangnya DC tidak menyetujui film ini dibuat versi lengkapnya. Bahkan mereka juga melarang pembuatan film-film fanmade seperti ini gara-gara film "Grayson" ini. Mungkin mereka malu karena ada orang dengan budget sangat rendah dapat membuat film dengan kualitas yang jauh melebihi film yang mereka buat (go down to hell and rot, "Batman & Robin").

Lihat link-link di bawah untuk keterangan lebih lanjut:
1. Grayson di YouTube
2. Grayson di iFilm
3. Grayson di Wikipedia
4. Grayson di IMDB

Life and Dream (part III)

Tuesday, May 8th, 2007

Sedangkan untuk aku sendiri, sekarang sedang dalam persimpangan dimana aku harus memilih "life or dream". Dengan umur sudah semakin "matang", tetapi masih single, dan belum ada rencana nyari. Don’t get me wrong, seperti cowok normal lainnya, ada juga keinginan untuk "settling down", cari cewek buat jadi istri, dll. Kadang  agak ngiri juga kalo liat temen lain yang udah berkeluarga. Kata mereka "uenak tenan". Tetapi aku sekarang masih ingin berjalan di jalan yang aku inginkan. Bukan jalan yang harus aku jalani tetapi tidak aku inginkan. Langkah pertama juga sudah aku jalani dengan tanpa diduga-duga. Karena Tuhan sudah menempatkan aku di pekerjaan yang memang aku inginkan dan aku rencanakan. The first step to fulfilling my dream.

Dan walaupun ingin, aku masih berpikir dua kali untuk membentuk keluarga. Karena sekarang diriku hanya untuk impian dan idealismeku saja. Aku siap menjalani kehidupan yang sulit seperti Musashi untuk mengejar impianku itu. Bahkan sekarang aku hidup hanya dengan Rp1 juta sebulan di kota dengan biaya hidup besar seperti Jakarta. Bahkan pernah cuma Rp600 ribu. I know the consequences. Aku bahkan sadar bahwa seseorang dengan bidang kerja yang aku inginkan (dan sedang aku jalani sekarang) kerja hampir 24 jam sehari. Tetapi karena aku memang senang, aku ga begitu merasa terbebani. Walaupun sering misuh-misuh gara-gara stres, tetapi dalam hati aku enjoy karena memang ini adalah sesuatu yang aku inginkan. Karena itulah aku tidak ingin menyeret orang lain ke dalam kehidupanku yang sulit. As I said, I don’t care about anything, even myself, except for my dream.

Walaupun begitu, tetap saja kelihatannya aku harus memilih lagi antara "life or dream" untuk sementara ini. Karena sebagai anak yang paling besar, aku punya kewajiban untuk mengentaskan keluargaku dulu. Sebenarnya dulu sudah ada perjanjian antara aku dan orang tuaku bahwa aku harus mengesampingkan mimpiku untuk membantu keluarga paling nggak sampai adik-adikku lulus kuliah (atau kira-kira 4 - 5 tahun lagi). Tetapi kelihatannya Tuhan berkehendak lain karena aku malah ditempatkan di pekerjaan yang merupakan salah satu jalan dari impianku (walaupun pada sisi keuangan, masih ada yang jauh lebih baik). Sedangkan perjanjian itu masih valid sehingga sekarang aku harus berpikir lagi untuk memilih antara mencari "gaji" atau "mimpi".

Jadi, untuk saat ini manakah yang harus aku pilih? Life or dream?

****************
Akhirnya aku memutuskan untuk membuat posting ini di blog. Jujur saja, sebenarnya aku sempat berpikir untuk tidak membuat post ini karena ini aku rasa terlalu "private" dan sedikit sensitif. Tetapi aku hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg dari hati yang paling dalam yang aku pendam sudah agak lama. Hanya ingin mengeluarkan "feses" pikiran dan berharap mungkin ada sedikit pencerahan.

Life and Dream (part II)

Tuesday, May 8th, 2007

Jadi semua itu berujung (IMHO) pada apa yang ingin kita cari. Apakah kita ingin mencari ketenangan batin dengan mencari / membentuk keluarga dan hidup untuk keluarga kita? Atau kita ingin menggapai impian dan hidup untuk diri kita sendiri?

Yang terbaik mungkin adalah keduanya. Tetapi aku rasa itu akan menjadi suatu yang lebih sulit karena baik dia maupun keluarganya harus melakukan pengorbanan. Sang suami mungkin harus berkorban dengan tidak terlalu terobsesi pada impiannya. Dan sang istri dan anak-anaknya harus berkorban dengan tidak menghalangi suami / ayahnya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Seperti pepatah "behind a successful man there’s a woman". Dan menurutku "that woman has to let his man to achieve what he wants".

Seperti Bill Gates dan Steve Jobs. Sewaktu aku melihat "Pirates of The Silicon Valley", Bill Gates dan Steve Jobs digambarkan sebagai "visionary", "dreamer",  dan "idealis". Dan mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan walaupun sudah berkeluarga mungkin karena istri mereka memang tidak menghalangi keinginan suaminya untuk mencapai ambisi dan impiannya. Atau mungkin mereka baru menikah ketika suami mereka sudah atau hampir mencapai impiannya (sudah mendirikan Microsoft dan Apple) sehingga mereka sudah cukup puas dengan keadaan suaminya. Coba bayangkan kalau Bill Gates menikah dengan Melinda ketika masih sangat muda. Mungkin Bill akan berpikir 2 kali untuk bertaruh membeli DOS dari SCP seharga $25000 dan dijual lagi ke IBM seharga berkali-kali lipat. Mungkin dia akan lebih mencari cara yang aman karena prioritas utama sudah bukan dirinya sendiri tetapi juga keluarganya.

Life and Dream (part I)

Tuesday, May 8th, 2007

Sudah lama juga ga nge-update blog ini. Dunno if this one will be okay or not. Here goes nothing.

Life and dream. Di satu sisi sebuah kenyataan yang akan dan harus kita hadapi (eventually). Sedangkan yang lain adalah suatu imajinasi, angan-angan, cita-cita, idealisme, sesuatu yang ingin kita capai. Mungkin kehidupan yang sempurna adalah dua sisi mata koin tersebut harus dapat dicapai sekaligus. Tetapi sering kali kenyataan hidup dan mimpi bertabrakan. Sehingga salah satu harus dikorbankan.

Musashi Miyamoto adalah salah satu contoh orang yang mengorbankan hidup untuk menggapai mimpi. Dia hidup sederhana dan sering berkelana untuk mencapai "jalan pedang". Menghadapi 80 pertarungan dan tanpa kalah sekali pun. Tetapi kehidupan sosialnya hampir selalu kekurangan. Hidup hanya untuk mencari "jalan pedang". Tanpa pernah menikah. Tanpa keluarga kecuali anak angkatnya. Menjadi ronin yang lontang-lantung ketika belum terkenal. Sampai akhirnya menjadi pelatih seorang daimyo ketika sudah berhasil mencapai mimpinya, menjadi samurai no 1. Tetapi tetap saja "he must sacrifice life to achieve dream".

Untuk contoh orang yang lebih mementingkan kenyataan hidup dan melepas mimpi aku rasa sudah banyak. Kebanyakan orang di dunia lebih mementingkan hidup hari ini untuk dia dan keluarganya. Mimpi dan angan-angan miliknya dulu sudah hilang entah kemana. Prioritas berubah menjadi menomorsatukan pada bagaimana agar diri dan keluarganya tidak mengalami kekerasan dalam hidup. Memang batinnya lebih terasa ringan karena dia jarang atau mungkin tidak akan mengalami kesepian. Dan kehidupan sosial yang lebih baik. Tetapi konsekuensinya dia tidak mempunyai waktu lagi untuk berpikir tentang dirinya dan apa yang dia ingin capai. Apalagi dengan keadaan dunia yang carut-marut seperti sekarang. Akhirnya "he must sacrifice dream to achieve life".