Balada kartu kredit!!!

Hari ini ada kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Tadi pagi HP Bapakku berbunyi. HP-nya memang ketinggalan di rumah sementara beliau pergi ke luar. Waktu aku yang ngangkat, ada suara seorang cewek. “Bisa berbicara dengan Bapak Supardi” katanya. Lalu aku bilang “Oh, Bapaknya gak ada. Ini HP-nya ditinggal di rumah”. Lalu dia bilang lagi “Oh, ya sudah terserah Bapak mau bohong apa nggak. HP itu sudah seperti dompet jadi dibawa terus sama orangnya. Pokoknya Bapak bisa bayar kartu kredit dari bank XXX milik Bapak yang sudah jatuh tempo kapan? Jangan seperti maling pak!” dengan nada yang ketus yang tidak mengenakkan. WTF!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Aku kontan aja marah dan adu mulut dengan dia. Kata-katanya menusuk sampai darahku mendidih. Kata-kata “Banci, Maling, Pengecut, dll” keluar dari mulutnya yang sepertinya bau comberan. Setelah agak lama, aku diam saja sambil mendengarkan sumpah-serapahnya walaupun darahku mendidih. Ingin rasanya aku bilang “J****k, meneng ta la!!” atau “Shut up, you f**king b***h”, tapi ada salah satu bagian dariku yang bilang “Sabar!! Ojok diladeni!! Sing waras ngalah!!”. Yah, mungkin itu adalah hasil doktrin anak paling besar yang harus mengalah pada adik-adiknya. *Sigh* Inilah nasib anak “mbarep”. Atau mungkin karena pribadiku aja yang agak cuek dan nyantai. Bahkan waktu dapur kebakaran juga aku masih tenang waktu minta tolong ke tetangga.

Ok, nuff said. Sekarang mari kita bahas tentang Kartu Kredit. IMHO, kartu kredit itu sangat tidak cocok diterapkan di Indonesia. Karena budaya dan sifat orang Indonesia yang berprinsip “Sekarang ya sekarang, besok sudah cerita yang lain” yang lebih mementingkan hari ini dan tidak memikirkan hari esok. Dengan budaya dan sifat ini, maka mereka berpikir bahwa kartu kredit adalah sebuah “easy money” tanpa memikirkan bagaimana membayarnya esok hari. Padahal menurut pendapat temanku dan guruku dulu (lupa siapa), kartu kredit itu sebetulnya hanya pengganti uang saja agar tidak membawa uang terlalu banyak. Jadi setelah memakai kartu kredit sebaiknya waktu sampai di rumah atau esok harinya segera dibayar agar gak berbuntut panjang dan kena bunga banyak. Selain itu, kartu kredit itu adalah suatu bentuk bisnis yang riba (sama seperti lintah darat). Kalau mau sebetulnya MUI bisa membuat fatwa “kartu kredit” itu haram (mungkin juga beserta semua praktek riba). Tapi, mungkin gak akan terjadi. Karena, hey, let’s face it. Who doesn’t want some easy money, right!!!??? Apalagi praktek ini sudah jadi standar international.

Leave a Reply