Archive for September, 2005

Too many vehicles!!!!!

Saturday, September 3rd, 2005

Oke sekarang mari kita bahas tentang kendaraan. Beberapa hari lalu aku sempat diskusi dengan temanku. Kendaraan pribadi di Indonesia semakin hari semakin bertambah saja. Mungkin malah lebih banyak daripada di luar negeri. Mungkin itu sebabnya di Indonesia makin hari makin panas. Apalagi di Surabaya. Puanas poll!!!!! Polusinya juga udah di atas batas wajar. Aku heran, katanya Indonesia itu negara yang masih berkembang dan terkena krisis, tapi kok kendaraan di jalan masih banyak?
<br>
Sebenarnya lebih baik di batasi saja impor kendaraan bermotor atau kasih aja pajak yang tinggi!Parkir juga dibuat perjam / per 30 menit seperti di luar negeri. Kalau lebih dari itu langsung di-"tow" (diderek) dan diberi denda mahal. Beri harga mahal bensin untuk kendaraan pribadi. Dengan begitu jumlah kendaraan pribadi akan berkurang dan polusi juga akan berkurang.
<br>
Tetapi begitu juga sarana kita bepergian. Karena itu, perbaiki dan perbanyak transportasi umum. Perbanyak rute yang bisa dilewati.  Buat para sopir kendaraan umum agar lebih disiplin, tepat waktu dan profesional. Subsidi harga bensin buat kendaraan umum.
<br>
Mungkin tidak semua daerah akan dapat di jangkau oleh kendaraan umum, tetapi kita masih bisa berjalan. Yang aku perhatikan selama ini kalau lihat TV, di luar negeri (terutama di Jepang) orang-orangnya lebih banyak berjalan kaki daripada berkendaraan sendiri. Coba dibandingkan di Indonesia. Berapa orang yang mau jalan kaki? Walaupun cuma beberapa puluh / ratus meter kalau punya sepeda motor pasti lebih memilih sepeda motor. Di jalan juga aku jarang melihat jalan yang mempunyai "pedestrian walk" (trotoar) yang memadai. Yang ada malah tidak ada pedestrian walk, tetapi langsung pagar sebuah rumah / got. Mungkin ini juga yang membuat kita males jalan kaki selain mungkin juga cuaca panas di negara tropis seperti Indonesia. Memang berjalan di Indonesia akan lebih capek daripada di Jepang atau Amerika Serikat karena panas matahari akan lebih cepat menguras stamina. Tapi, itulah gunanya pohon / naungan lain di sepanjang "pedestrian walk" (kalau ada).
<br>
Kapan yah Indonesia punya subway??? Kapan yah Indonesia punya pusat keramaian seperti Ginza di Jepang dimana jalanan lebih padat orang yang berjalan kaki dari pada kendaraan???

Balada kartu kredit!!!

Thursday, September 1st, 2005

Hari ini ada kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Tadi pagi HP Bapakku berbunyi. HP-nya memang ketinggalan di rumah sementara beliau pergi ke luar. Waktu aku yang ngangkat, ada suara seorang cewek. “Bisa berbicara dengan Bapak Supardi” katanya. Lalu aku bilang “Oh, Bapaknya gak ada. Ini HP-nya ditinggal di rumah”. Lalu dia bilang lagi “Oh, ya sudah terserah Bapak mau bohong apa nggak. HP itu sudah seperti dompet jadi dibawa terus sama orangnya. Pokoknya Bapak bisa bayar kartu kredit dari bank XXX milik Bapak yang sudah jatuh tempo kapan? Jangan seperti maling pak!” dengan nada yang ketus yang tidak mengenakkan. WTF!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Aku kontan aja marah dan adu mulut dengan dia. Kata-katanya menusuk sampai darahku mendidih. Kata-kata “Banci, Maling, Pengecut, dll” keluar dari mulutnya yang sepertinya bau comberan. Setelah agak lama, aku diam saja sambil mendengarkan sumpah-serapahnya walaupun darahku mendidih. Ingin rasanya aku bilang “J****k, meneng ta la!!” atau “Shut up, you f**king b***h”, tapi ada salah satu bagian dariku yang bilang “Sabar!! Ojok diladeni!! Sing waras ngalah!!”. Yah, mungkin itu adalah hasil doktrin anak paling besar yang harus mengalah pada adik-adiknya. *Sigh* Inilah nasib anak “mbarep”. Atau mungkin karena pribadiku aja yang agak cuek dan nyantai. Bahkan waktu dapur kebakaran juga aku masih tenang waktu minta tolong ke tetangga.

Ok, nuff said. Sekarang mari kita bahas tentang Kartu Kredit. IMHO, kartu kredit itu sangat tidak cocok diterapkan di Indonesia. Karena budaya dan sifat orang Indonesia yang berprinsip “Sekarang ya sekarang, besok sudah cerita yang lain” yang lebih mementingkan hari ini dan tidak memikirkan hari esok. Dengan budaya dan sifat ini, maka mereka berpikir bahwa kartu kredit adalah sebuah “easy money” tanpa memikirkan bagaimana membayarnya esok hari. Padahal menurut pendapat temanku dan guruku dulu (lupa siapa), kartu kredit itu sebetulnya hanya pengganti uang saja agar tidak membawa uang terlalu banyak. Jadi setelah memakai kartu kredit sebaiknya waktu sampai di rumah atau esok harinya segera dibayar agar gak berbuntut panjang dan kena bunga banyak. Selain itu, kartu kredit itu adalah suatu bentuk bisnis yang riba (sama seperti lintah darat). Kalau mau sebetulnya MUI bisa membuat fatwa “kartu kredit” itu haram (mungkin juga beserta semua praktek riba). Tapi, mungkin gak akan terjadi. Karena, hey, let’s face it. Who doesn’t want some easy money, right!!!??? Apalagi praktek ini sudah jadi standar international.